Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sektor kelistrikan kini menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di industri energi, melampaui sektor pasokan bahan bakar. Temuan ini dipaparkan dalam laporan World Energy Employment 2025 terbaru yang dirilis oleh International Energy Agency (IEA). Lonjakan kebutuhan tenaga kerja di pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penyimpanan energi menjadikan sektor listrik sebagai pusat pertumbuhan lapangan kerja energi global.
Pertumbuhan Pesat: 3.9 Juta Pekerjaan Baru dalam Lima Tahun
Dalam lima tahun terakhir, sektor listrik menambahkan 3.9 juta pekerjaan, menyumbang hampir tiga perempat dari seluruh pertumbuhan pekerjaan energi global. Solar PV menjadi pendorong utama, mengisi setengah dari semua penambahan pekerjaan tenaga listrik sejak 2019. Tenaga nuklir, jaringan listrik (grids), dan storage turut menyumbang seperempat dari pertumbuhan tersebut, meski menghadapi hambatan seperti kenaikan biaya komponen dan kurangnya tenaga kerja terampil.
IEA menegaskan bahwa transformasi menuju sistem energi rendah emisi bukan hanya menata ulang sumber energi, tetapi juga mengubah lanskap tenaga kerja global.
Peralihan ke Elektrifikasi Mengubah Pola Pekerjaan di Sektor Terkait
Perubahan menuju elektrifikasi turut memengaruhi karakter pekerjaan di sektor-sektor lain. Pasar offshore wind yang masih menghadapi tantangan menyebabkan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja di sektor angin, dengan penurunan 6% pekerjaan di manufaktur turbin pada 2024.
Sebaliknya, sektor otomotif menunjukkan dinamika berbeda. Pekerjaan manufaktur kendaraan terus meningkat, terutama didorong ekspansi kendaraan listrik (EV). Pada 2024 saja, lapangan kerja terkait EV bertambah hampir 800.000 pekerjaan, menegaskan bahwa elektrifikasi membuka peluang ekonomi baru di luar sektor listrik inti.
Ketersediaan Tenaga Kerja Menjadi Faktor Penentu Keamanan Energi
IEA menyoroti bahwa kemampuan negara untuk menjaga keamanan energi, memperluas jaringan listrik, membangun industri energi bersih, serta memodernisasi reaktor nuklir sangat bergantung pada ketersediaan tenaga kerja terampil.
Saat ini, sekitar 60% perusahaan energi melaporkan kekurangan tenaga kerja, mengancam ketepatan waktu proyek, keandalan sistem, dan pengendalian biaya. Kekurangan pekerja terampil kini menjadi risiko nyata bagi stabilitas sistem energi global.
Kebutuhan Tenaga Kerja Terlatih Terus Melonjak, Tapi Lulusan Tidak Mencukupi
Permintaan tenaga kerja teknis meningkat 16% dari 2015–2022, namun jumlah lulusan dari program vokasi relevan hanya naik 9%. Ketidakseimbangan ini mulai menghambat banyak proyek energi, termasuk sektor wind yang diperkirakan membutuhkan 628.000 pekerja tambahan pada 2030.
Kesenjangan kompetensi ini membuat perusahaan semakin sulit menarik dan mempertahankan pekerja yang berpengalaman—sebuah tantangan yang dapat menunda transisi energi global.
Tenaga Kerja Energi Akan Tetap Menjadi Pilar Pertumbuhan Ekonomi
IEA memperkirakan bahwa sektor energi akan tetap menjadi sumber utama pertumbuhan pekerjaan dan memainkan peran krusial dalam mempertahankan dukungan publik terhadap kebijakan energi. Ketika keamanan energi semakin menjadi prioritas nasional, keberadaan tenaga kerja yang kompeten menjadi syarat penting untuk menarik investasi, membangun rantai pasok, dan memastikan operasi yang andal.
Aksi bersama pemerintah, industri, dan organisasi pekerja dianggap sangat penting untuk mencegah kekurangan tenaga terampil menjadi hambatan struktural. IEA menegaskan bahwa kombinasi pelatihan yang tepat, investasi tenaga kerja, dan kebijakan yang terkoordinasi dapat memastikan sektor energi memberikan pekerjaan yang berkualitas, meningkatkan daya saing negara, dan mendukung pencapaian target keberlanjutan secara terjangkau.









